Join The Community

Thursday, June 25, 2015

Terjebak Teoritis part 1

banyak yang bilang bahagia itu simple... makan mie instan diwaktu laper plus cuaca dingin itu sebuah kebahagiaan, dapet bonus gaji itu kebahagiaan, disenyumin sama gebetan itu kebahagiaan, jadi juara kelas itu juga kebahagiaan.
Jadi bentuk kebahagiaan itu bermacam-macam lain orang lain pula bentuknya.
Kebahagiaan itu simpel, hmmm Teori banget... buat kalian yang memang sepaham dengan Kebahagiaan itu simpel, pada saat itu pula kalian sedang mengesampingkan perasaan-perasaan yang sedang meronta.
Cuma kesedihan yang bisa mengukur rasa kebahagiaan, buat gue kebahagiaan itu proses, dimana keinginan hati untuk memenuhi serta menutupi sebuah kesedihan itu tadi.
Jadi kesimpulannya.. Kebahagiaan itu tidak sesimpel seperti yang kalian maksud.. melainkan sebuah pengorbanan dimana harus benar-benar melupakan sejenak perasaan sedih. Nahh lebih tepatnya perasaan Bahagia diganti dengan perasaan Gembira/senang.

Thursday, June 11, 2015

Nafkah untuk Istri

Membaca artikel islami tentang hak Nafkah seorang istri, disana di tulis harus ada pembeda antara uang belanja dengan uang Nafkah dengan alasan kalau uang belanja yaitu uang yang khusus dikelola untuk kebutuhan rumah tangga seperti makan, kebutuhan dapur, kamar mandi segala jenis kebutuhan yang menyangkut dengan urusan suami, anak juga istri. Sementara Uang Nafkah itu hanya dikhususkan untuk kebutuhan istri, semisal untuk perawatan tubuh istri mungkin, atau pembelian make up barangkali, dengan alasan pula menjaga kehormatan istri agar tidak menjadi pengemis terhadap suami. sumber

Entah kenapa gue sebagai perempuan dan kebetulan seorang istri juga tidak sepaham dengan pemikiran demikian. Terkesan terlalu membebani bagi mereka (suami) berpenghasilan kecil, yaaa kalo memang gaji sudah berlebih bolehlahh... pake banget bahkan.

Kalau boleh menilik, kebutuhan istri itu bukan sekedar materi melainkan kenyamanan, Kebahagiaan serta perasaan dibutuhkan dan dihormati itu yang penting.. dengan demikian kehidupan berumah tangga akan berjalan baik dan lancar.
Sebab galaunya hati seorang istri akan mempengaruhi keadaan kacau seisi rumah.

Kuncinya komunikasi dua arah yang terjalin dengan baik, sehingga tahu apa-apa saja yang menjadi kebutuhan satu sama lain.
Terkadang bentuk kita hanya dilihat dari wujud nyata fisiknya saja tetapi kita seringkali lupa bahwa yang menghidupkan wujud nyata fisik kita ada sebuah jiwa disana, yang membutuhkan asupan seimbang juga, dalam hal ini sudah bukan bicara materi lagi.

◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎◎
Sofa Murah
●●○○◎◎○○●●◎◎◎●●●●

Sunday, June 7, 2015

Curhat On the Street

seketika sepeda motor gue berhenti begitu melihat sosok perempuan bersepeda yang gue kenali pesis melintas dihadapan.
dua tahun tepatnya gak pernah bertemu. beliau bekerja sebagai asisten rumah tangga, pertemuan yang singkat itu dimanfaatkan untuk mencurahkan betapa berat kehidupan yang dijalani.
ternyata banyaknya saudara kandungpun gak selamanya bisa membantu segala bentuk kesulitan yang dihadapinya.
memiliki suami yang begitu pemalas membuatnya lelah hati, setidaknya kalau hidup bisa dipilih mungkin beliau memilih untuk tak memilih.
pahit memang dirasa kenyataan perjuangan membesarkan seorang anak yang masih butuh biaya sekolah, kontrakan rumah yang memang merupakan tanggung jawab, kebutuhan makan sehari-hari yang gak bisa ditunda... membuat beliau menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
mulai menemukan jalan dengan cara berontak dari keadaan, menunjukan bahwa kemampuan seorang perempuan bukan hanya sekedar menangis dan nerima keadaan. beliau mencoba mengeraskan dan terkesan mengancam suami yang pemalas itu dengan berkata... " kamu itu laki-laki seharusnya bertanggung jawab atas hidup dan mati istrinya... kontrakan harus dibayar dengan uang jadi carilah uang."
mungkin sebagai laki-laki sedikit merasa terhina atas perkataan seperti itu dan akhirnya sedikit ada perubahan keinginan mencari uang meski sekedar untuk bayar kontrakan. padahal cukup banyak tanggung jawab seorang suami atas istrinya.
suaranya semakin lantang begitu menceritakan kelicikan saudara-saudaranya.. dan gue cuma bisa manggut-manggut.
senyumpun gue lempar tatkala beliau bilang sekarang sedikit banyak belajar menabung, hingga akhirnya ia bisa membeli sepeda dan sedikit perhiasan.
entah berapa menit pembicaraan berlangsung tapi gelagat Faeyza yang sejak tadi berdiri dimotor mulai tak nyaman, akhirnya gue berpamit pulang dan berjanji akan berkunjung kerumahnya, bukan sebagai penghibur tetapi sebagai pendengar, sebab seseorang yang baik dinilai dari bagaimana kesanggupan menjadi seorang pendengar sebabkita sebagai mahluk tak sempurna terkadang lebih suka bercerita ketimbang mendengarkan.